Rapimprov KADIN Sumut Dari Konsolidasi Pengusaha hingga Peluncuran Program Nasional

Sentra Berita | Medan, Dunia usaha tidak pernah bergerak dalam ruang yang berdiri sendiri. Di satu sisi ada pengusaha yang membutuhkan kepastian dan kemudahan berusaha. Di sisi lain, pemerintah membutuhkan investasi, lapangan kerja, serta perputaran ekonomi. Di antara keduanya, dibutuhkan ruang komunikasi yang mampu mempertemukan kepentingan.

Ruang itulah yang coba dibangun Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sumatera Utara melalui Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) sekaligus peringatan HUT ke-58 KADIN Sumut yang digelar di Hotel Adimulia Medan, Kamis (24/9/2026).

Rapimprov bukan sekadar agenda rutin organisasi. Forum tersebut menjadi momentum konsolidasi dunia usaha di Sumatera Utara, sekaligus menghubungkan agenda daerah dengan gerak KADIN Indonesia di tingkat nasional.

Suasana konsolidasi semakin terasa ketika rangkaian kegiatan di Sumatera Utara terhubung secara daring dengan peluncuran sejumlah program strategis KADIN Indonesia yang diikuti jajaran KADIN dari 38 provinsi di Indonesia.

Ketua Panitia Rapimprov KADIN Sumut, Andi Atmoko Panggabean, dalam laporannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan kegiatan.

Menurut Andi, dukungan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari suksesnya acara, tetapi juga menunjukkan adanya hubungan yang semakin luas antara KADIN dengan berbagai unsur dalam ekosistem ekonomi.

“Terima kasih kepada seluruh mitra KADIN yang telah memberikan dukungan. Terutama Bank Himbara, Bank Sumut, Hiswana Migas, Gakopti, organisasi pengusaha, BPS, Bappeda, OJK dan seluruh undangan yang hadir,” ujar Andi.

Bagi KADIN Sumut, keterlibatan berbagai lembaga tersebut menjadi gambaran bahwa dunia usaha membutuhkan jejaring yang luas. Pengusaha tidak hanya berhadapan dengan persoalan produksi dan pasar, tetapi juga pembiayaan, perizinan, kebijakan pemerintah, data ekonomi hingga infrastruktur.

Karena itu, Rapimprov sekaligus menjadi momentum memperkuat konsolidasi organisasi, termasuk kepengurusan KADIN di 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara.

Menempatkan KADIN sebagai Jembatan

Ketua Umum KADIN Sumut, Firsal Dida Mutyara, yang juga menjabat Komisaris Utama Bank Sumut, menempatkan komunikasi sebagai salah satu kunci dalam memperkuat posisi organisasi pengusaha.

Menurut Firsal, KADIN tidak cukup hanya menjadi wadah berhimpunnya para pengusaha. Organisasi tersebut juga harus mampu menjadi penghubung antara dunia usaha, pemerintah daerah dan investor.

“Pengusaha tidak bisa berjalan sendiri. KADIN harus menjadi jembatan komunikasi antara dunia usaha, pemerintah daerah dan para investor,” kata Firsal.

Pernyataan itu menggambarkan posisi yang ingin diperkuat KADIN Sumut: menjadi ruang bertemunya kepentingan ekonomi, bukan hanya forum internal organisasi.

Firsal menegaskan, KADIN Sumut akan terus mendorong agar keberadaan organisasi dapat memberikan kontribusi konkret terhadap pembangunan ekonomi Sumatera Utara.

Sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya perwakilan pemerintah daerah, Polda Sumut, Bank Himbara, Bank Sumut, Bank Permata, OJK, perusahaan daerah, PDAM Tirtanadi dan PT PSU.

Hadir pula berbagai organisasi himpunan dan asosiasi pengusaha serta jajaran KADIN dari 33 kabupaten/kota se-Sumatera Utara.

Dari Medan ke 38 Provinsi

Jika Rapimprov menjadi panggung konsolidasi di tingkat Sumatera Utara, agenda berikutnya memperlihatkan bagaimana organisasi tersebut menghubungkan daerah dengan kebijakan dan program KADIN di tingkat nasional.

Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Bakrie memimpin peluncuran sejumlah program secara daring. Agenda tersebut diikuti kepengurusan KADIN dari 38 provinsi se-Indonesia.

Beberapa program yang diluncurkan antara lain Satgas KDMP, Satgas Protein, KADIN Indonesia Golf Club, KADIN Peduli Bencana, program Pendidikan, LPK KADIN, Platform BES Eksyar melalui isec.id, White Paper Kesehatan, serta KADIN Apps.

Peluncuran serentak tersebut menjadi gambaran bagaimana agenda KADIN di tingkat pusat dikoneksikan dengan struktur organisasi di daerah.

Dengan demikian, forum di Medan tidak hanya berbicara tentang kepentingan pengusaha Sumatera Utara, tetapi juga menjadi bagian dari agenda organisasi yang lebih luas secara nasional.

Pemerintah Membuka Ruang Sinergi

Hubungan antara pemerintah dan dunia usaha menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam Rapimprov.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Timur Tumanggor, yang hadir mewakili Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut.

Timur menilai komunikasi antara pemerintah dan dunia usaha perlu terus diperkuat agar program pembangunan dapat berjalan dengan dukungan sektor swasta.

“Pemerintah tentu membutuhkan dunia usaha sebagai mitra dalam menggerakkan perekonomian. Karena itu komunikasi dan sinergi seperti ini perlu terus dibangun,” ujar Timur.

Saat kegiatan berlangsung, Gubernur Sumut disebut sedang berada di Jakarta untuk menghadiri rapat koordinasi nasional yang berkaitan dengan inflasi serta ekonomi dan keuangan.

Pesan yang disampaikan pemerintah daerah tersebut memperlihatkan satu kebutuhan yang sama: pembangunan ekonomi membutuhkan komunikasi lintas sektor.

Ketika Data Bertemu Dunia Usaha

Rangkaian kegiatan kemudian bergerak dari seremoni menuju dialog ekonomi.

Dipandu Ade Sandrawati Purba, sesi dialog menghadirkan sejumlah narasumber dari pemerintah, lembaga statistik, dunia usaha dan sektor kepelabuhanan.

Mereka adalah Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sumatera Utara Nurbaiti Harahap, S.Sos., M.AP.; Kepala BPS Sumut Asim Saputra, S.ST., M.Ec., Dev.; Wakil Ketua Umum Bidang Perekonomian KADIN Sumut Peter Suhendra; serta Direktur Eksekutif Regional I Pelindo Jonedi Ramli.

Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan sejumlah perspektif yang berbeda. Pemerintah membawa perspektif kebijakan dan investasi, BPS menyajikan data, dunia usaha berbicara mengenai aktivitas ekonomi, sementara sektor kepelabuhanan membawa isu konektivitas dan arus barang.

Dari sinilah Rapimprov bergerak dari sekadar agenda organisasi menuju ruang diskusi mengenai kondisi dan tantangan ekonomi Sumatera Utara.

Setelah dialog, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Sidang Pleno Rapimprov KADIN Sumatera Utara sebagai bagian dari agenda internal organisasi.

Lebih dari Sekadar Seremoni

Pada akhirnya, Rapimprov KADIN Sumut dan peringatan HUT ke-58 bukan hanya tentang seremoni organisasi.

Di balik panggung acara, terdapat agenda yang lebih besar: memperkuat konsolidasi internal, mempertemukan dunia usaha dengan pemerintah, sekaligus menghubungkan kepentingan daerah dengan program KADIN di tingkat nasional.

Bagi KADIN Sumut, ukuran keberhasilan forum tersebut bukan semata-mata pada terlaksananya acara, melainkan pada komunikasi yang terbangun setelahnya.

Firsal Dida Mutyara menegaskan harapan agar Rapimprov tidak berhenti sebagai forum organisasi.

“Harapannya, Rapimprov ini tidak berhenti sebagai forum organisasi, tetapi menghasilkan komunikasi dan program yang dapat memberikan manfaat bagi dunia usaha dan perekonomian Sumatera Utara,” pungkasnya.

Kalimat itu sekaligus menjadi pekerjaan rumah setelah forum berakhir: bagaimana gagasan yang dibicarakan di ruang Rapimprov diterjemahkan menjadi komunikasi, kolaborasi, dan program yang benar-benar terasa dalam aktivitas dunia usaha di Sumatera Utara.

Editor : Redaksi

ARTIKEL LAINNYA

Redaksi Pedoman Media